Pagi yang cerah , selesai upacara aku beristirahat sejenak ditemani sahabatku Alya.
“Huft, cape nih ..” ucapku.
“Iya, tumben panas banget” sahut Alya.
“Ga tau nih..” kataku.
Aku menatap mata sahabatku itu dengan tatapan kosong yang menerawang.
“sebentar lagi kita akan mengadakan perpisahan ...” gumamku. “iya nih,
tidak lama lagi kita akan berpisah” seru Alya dengan nada lirih. Aku
memang hanya mempunya waktu 1 bulan lagi untuk bersekolah, sebentar lagi
akan diadakan perpisahan dan aku akan masuk sekolah yang berbeda dengan
Alya.
“Kamu mau masuk sekolah mana?” ujar Alya.
“Gak tau, aku takut merepotkan orang tuaku,” jawabku.
“Semoga kamu sekolah disekolah favorit yah, kan kamu pandai ian...”
ucap Alya sambil tersenyum kecil. Dalam hati aku ingin sekali
melanjutkan pendidikanku disekolah yang bagus, namun aku hanyalah anak
yang berasal dari keluarga sederhana.
Kriiiiiinngggg!! Bel sekolah berbunyi.
“Masuk yuk, udah bel tuh” kataku,
“Yaudah yuk” sahut Alya.
***
Ketika pulang sekolah, sesampainya aku dirumah, aku langsung menghampiri bundaku.
“Bun, mulai besok kan ada pendataan kelanjutan sekolah.
Nanti dede mau melanjutkan sekolah dimana?” ujar aku kepada bundanya.
Dirumah Dini memang dipanggil ‘dede’ oleh keluarganya. Maklumlah, aku
masih dianggap anak kecil oleh orang tuanya. Bunda hanya terdiam dan
berfikir, “nanti bunda tanya sama ayah dulu” jawab bunda.
Sore harinya setelah ayah pulang bekerja, bunda langsung
menghampiri ayah dan membicarakan hal yang tadi siang aku sampaikan
kepada bunda mengenai kelanjutan sekolahku. Selesai ayah dan bunda
berbicara, tak lama kemudian ayah mengajakku pergi kerumah paman dan
tanteku. Sesampainya dirumah tanteku, ayah berbicara dengan tanteku
serta pamanku, dan aku bermain dengan sepupuku disana.
Tak lama kemudian tante memnggilku, “Dini, sini sebentar” panggil tante.
“Iya tante” sahutku.
“Sini, tante mau tanya, kamu mau masuk sekolah mana?” tanya tante.
“Gak tau tante, aku sih terserah tante ayah aja” jawabku.
“Di SMA aja”, kata pamanku.
“SMA mana yah yang murah tapi bagus?” sahut ayah.
“Di SMA 9 TANGSEL aja, itu sekolah favorit dan biayanya ga begitu mahal” jawab pamanku.
Dan akhirnya diputuskan bahwa aku akan melanjutkan
sekolah di SMA 9 TANGSEL. Aku hanya diam, aku merasa sangat merepotkan
keluargaku.
Keesokkan harinya, sebelum berangkat kerja ayah berpesan
kepadaku agar aku tidak lupa menanyakan pendaftaran di SMA 9 TANGSEL
kepada guruku.
Ketika aku sampai disekolah, aku langsung menghampiri Alya yang sudah
sampai disekolah terlebih dahulu. “Alya, kamu mau masuk SMA mana?”
tanyaku.
Alya menjawab “di SMA 6 TANGSEL, kamu?”.
“Aku kayanya masuk SMA 9 TANGSEL deh” jawabku.
Tak lama pun bel sekolah berbunyi.
Setelah pelajaran berakhir, aku pergi ke ruang guru dan menemui pak Sudarman yang akrab dipanggil pak Darman.
“Assalamualaikum pak..” sapaku.
“Waalaikumsalam, ada apa din?” jawab pak Darman.
“Ini pak, saya mau tanya, kalau saya masuk SMA 9 TANGSEL apakah ada jalur kolektif?” tanyaku.
“Sebentar yah, oiya ini di SMA 9 TANGSEL ada program beasiswa, saya
ingn mendaftarkan seluruh siswa yang mendapatkan peringkat 3 besar dari
kelas 7 hingga kelas 9. Kamu kan selalu masuk peringkat 3 besar, saya
akan mendaftarkan kamu dalam program ini.” kata pak Darman.
“Oh ya pak? Benarkah itu?” tanyaku kaget.
“Iya, kamu cukup memberikan fotocopy hasil belajar kamu selama
sekolah di SMP ini, lalu nanti saya akan mengirimkan data tersebut ke
SMA 9 TANGSEL.” Jawab pak Darman.
***
Hari ini tepat tanggal 4 juni ada acara perpisahan sekolah. Acara
diadakan di gedung WTC Matahari BSD lantai 3. Dalam acara ini semua
siswa harus memakai pakaian batik. Pada acara ini tantenya dian diundang
sekolah untuk menyampaikan sambutan wali murid.
Acara dimulai, susunan acara berjalan dengan lancar, hingga tiba waktunya...
“Selanjutnya sambutan wali murid dari Dini Choirunnisa...” seru
pembawa acara dengan lantang. Lalu tanteku naik keatas podium dan
memberikan sambutan yang sangat mengharukan.
Setelah acara selesai, aku dan tanteku keluar dari ruangan acara dan
langsung menemui pak Darman. Pak Darman memberikan informasi mengenai
siswa yang dikirim dalam program beasiswa SMA 9 tersebut. Ternyata
sekolahku hanya mengirimkan 6 siswa, dan hanya 3 sswa yang diterima.
“Maaf ibu Esti, saya ingin bicara sebentar?”, kata pak Darman.
“Oh iya pak J”, sahut tanteku.
“Begini, Dini katanya mendaftar di SMA 9 TANGSEL, dan kebetulan
disekolah itu menawarkan program beasiswa. Saya mendaftarkan 6 siswa
dalam program tersebut dan hanya 3 siswa yang beruntung mendapatkan
beasiswa tersebut”, kata pak Darman.
Mendengar kata-kata pak Darman itu, aku langsung terdiam dan
tertunduk lesu. Aku berfikir bahwa aku pasti bukan terasuk 3 siswa yang
beruntung itu. Dan akhirnya aku pasti menyusahkan tanteku lagi.
“Dari ketiga siswa tersebut yang beruntung adalah Dini Choirunnisa,
Ramadhan Dwi Putra, dan Dira Punisa. Selamat keponakan ibu Esti
mendapatkan beasiswa.” kata pak Darman lanjut.
Aku langsung mengangkat wajahku lagi dan tersenyum bahagia. Dengan
beasiswa itu aku tidak perlu menyusahkan tanteku lagi. Aku sangat
gembira telah membanggakan kedua orang tuaku walaupun hanya sedikit.
Setelah pulang dari acara perpisahan itu, aku segera pulang dan ingin
secepatnya memberi tahu ayah dan bunda hal ini. Kini aku bersekolah di
SMA 9 TANGSEL bukan merupakan bantuan dari tanteku, melainkan dari hasil
jerih payahnya selama ini. Aku sangat bersyukur atas semua yang telah
diberikan oleh tuhan .
ya itula cerita gua kenapa gua masuk nepat. tapi gua bersyukur, gua punya banyak temen baik di nepat:)
gua ada dikelas X4 (GOST), XI IPA 5 dan XII IPA 3 (DUBSTIG) . thankyou gaes~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar