Jumat, 26 September 2014

cerpen awal mula masuk nepat

Pagi yang cerah , selesai upacara aku beristirahat sejenak ditemani sahabatku Alya.
“Huft, cape nih ..” ucapku.
“Iya, tumben panas banget” sahut Alya.
“Ga tau nih..” kataku.
Aku menatap mata sahabatku itu dengan tatapan kosong yang menerawang. “sebentar lagi kita akan mengadakan perpisahan ...” gumamku. “iya nih, tidak lama lagi kita akan berpisah” seru Alya dengan nada lirih. Aku memang hanya mempunya waktu 1 bulan lagi untuk bersekolah, sebentar lagi akan diadakan perpisahan dan aku akan masuk sekolah yang berbeda dengan Alya.
“Kamu mau masuk sekolah mana?” ujar Alya.
“Gak tau, aku takut merepotkan orang tuaku,” jawabku.
“Semoga kamu sekolah disekolah favorit yah, kan kamu pandai ian...” ucap Alya sambil tersenyum kecil. Dalam hati aku ingin sekali melanjutkan pendidikanku disekolah yang bagus, namun aku hanyalah anak yang berasal dari keluarga sederhana.
Kriiiiiinngggg!! Bel sekolah berbunyi.
“Masuk yuk, udah bel tuh” kataku,
“Yaudah yuk” sahut Alya.
***
            Ketika pulang sekolah, sesampainya aku dirumah, aku langsung menghampiri bundaku.
            “Bun, mulai besok kan ada pendataan kelanjutan sekolah. Nanti dede mau melanjutkan sekolah dimana?” ujar aku kepada bundanya. Dirumah Dini memang dipanggil ‘dede’ oleh keluarganya. Maklumlah, aku masih dianggap anak kecil oleh orang tuanya. Bunda hanya terdiam dan berfikir, “nanti bunda tanya sama ayah dulu” jawab bunda.
            Sore harinya setelah ayah pulang bekerja, bunda langsung menghampiri ayah dan membicarakan hal yang tadi siang aku sampaikan kepada bunda mengenai kelanjutan sekolahku. Selesai ayah dan bunda berbicara, tak lama kemudian ayah mengajakku pergi kerumah paman dan tanteku. Sesampainya dirumah tanteku, ayah berbicara dengan tanteku serta pamanku, dan aku bermain dengan sepupuku disana.
            Tak lama kemudian tante memnggilku, “Dini, sini sebentar” panggil tante.
            “Iya tante” sahutku.
            “Sini, tante mau tanya, kamu mau masuk sekolah mana?” tanya tante.
            “Gak tau tante, aku sih terserah tante ayah aja” jawabku.
            “Di SMA aja”, kata pamanku.
            “SMA mana yah yang murah tapi bagus?” sahut ayah.
            “Di SMA 9 TANGSEL aja, itu sekolah favorit dan biayanya ga begitu mahal” jawab pamanku.
            Dan akhirnya diputuskan bahwa aku akan melanjutkan sekolah di SMA 9 TANGSEL. Aku hanya diam, aku merasa sangat merepotkan keluargaku.
            Keesokkan harinya, sebelum berangkat kerja ayah berpesan kepadaku agar aku tidak lupa menanyakan pendaftaran di SMA 9 TANGSEL kepada guruku.
Ketika aku sampai disekolah, aku langsung menghampiri Alya yang sudah sampai disekolah terlebih dahulu. “Alya, kamu mau masuk SMA mana?” tanyaku.
Alya menjawab “di SMA 6 TANGSEL, kamu?”.
“Aku kayanya masuk SMA 9 TANGSEL deh” jawabku.
Tak lama pun bel sekolah berbunyi.
Setelah pelajaran berakhir, aku pergi ke ruang guru dan menemui pak Sudarman yang akrab dipanggil pak Darman.
“Assalamualaikum pak..” sapaku.
“Waalaikumsalam, ada apa din?” jawab pak Darman.
“Ini pak, saya mau tanya, kalau saya masuk SMA 9 TANGSEL apakah ada jalur kolektif?” tanyaku.
“Sebentar yah, oiya ini di SMA 9 TANGSEL ada program beasiswa, saya ingn mendaftarkan seluruh siswa yang mendapatkan peringkat 3 besar dari kelas 7 hingga kelas 9. Kamu kan selalu masuk peringkat 3 besar, saya akan mendaftarkan kamu dalam program ini.” kata pak Darman.
“Oh ya pak? Benarkah itu?” tanyaku kaget.
“Iya, kamu cukup memberikan fotocopy hasil belajar kamu selama sekolah di SMP ini, lalu nanti saya akan mengirimkan data tersebut ke SMA 9 TANGSEL.” Jawab pak Darman.
***
Hari ini tepat tanggal 4 juni ada acara perpisahan sekolah. Acara diadakan di gedung WTC Matahari BSD lantai 3. Dalam acara ini semua siswa harus memakai pakaian batik. Pada acara ini tantenya dian diundang sekolah untuk menyampaikan sambutan wali murid.
Acara dimulai, susunan acara berjalan dengan lancar, hingga tiba waktunya...
“Selanjutnya sambutan wali murid dari Dini Choirunnisa...” seru pembawa acara dengan lantang. Lalu tanteku naik keatas podium dan memberikan sambutan yang sangat mengharukan.
Setelah acara selesai, aku dan tanteku keluar dari ruangan acara dan langsung menemui pak Darman. Pak Darman memberikan informasi mengenai siswa yang dikirim dalam program beasiswa SMA 9 tersebut. Ternyata sekolahku hanya mengirimkan 6 siswa, dan hanya 3 sswa yang diterima.
“Maaf ibu Esti, saya ingin bicara sebentar?”, kata pak Darman.
“Oh iya pak J”, sahut tanteku.
“Begini, Dini katanya mendaftar di SMA 9 TANGSEL, dan kebetulan disekolah itu menawarkan program beasiswa. Saya mendaftarkan 6 siswa dalam program tersebut dan hanya 3 siswa yang beruntung mendapatkan beasiswa tersebut”, kata pak Darman.
Mendengar kata-kata pak Darman itu, aku langsung terdiam dan tertunduk lesu. Aku berfikir bahwa aku pasti bukan terasuk 3 siswa yang beruntung itu. Dan akhirnya aku pasti menyusahkan tanteku lagi.
“Dari ketiga siswa tersebut yang beruntung adalah Dini Choirunnisa, Ramadhan Dwi Putra, dan Dira Punisa. Selamat keponakan ibu Esti mendapatkan beasiswa.” kata pak Darman lanjut.
Aku langsung mengangkat wajahku lagi dan tersenyum bahagia. Dengan beasiswa itu aku tidak perlu menyusahkan tanteku lagi. Aku sangat gembira telah membanggakan kedua orang tuaku walaupun hanya sedikit.
Setelah pulang dari acara perpisahan itu, aku segera pulang dan ingin secepatnya memberi tahu ayah dan bunda hal ini. Kini aku bersekolah di SMA 9 TANGSEL bukan merupakan bantuan dari tanteku, melainkan dari hasil jerih payahnya selama ini. Aku sangat bersyukur atas semua yang telah diberikan oleh tuhan .

ya itula cerita gua kenapa gua masuk nepat. tapi gua bersyukur, gua punya banyak temen baik di nepat:)
gua ada dikelas X4 (GOST), XI IPA 5 dan XII IPA 3 (DUBSTIG) . thankyou gaes~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar